Postingan

Selamat Datang Bulan ke-11!

Gambar
Seseorang bertanya padaku, “Apakah aku bisa sekuat itu?” setelah aku memaksanya berhenti dari seseorang yang telah menempel begitu kuat seperti racun bagi hidupnya.  Aku berdehem, “Oleh manusia bangsat seperti itu, kamu mau menghancurkan dirimu berapa lama lagi?”    Sedikit, ia terlihat ragu-ragu. “Bukankah dia hanya ragu?” tanyanya.  “Dia atau engkau yang justru sedang ragu?” aku bertanya balik.  “Lalu, bagaimana aku nanti? Apakah masih ada yang mau menerimaku sebaik dia?”    Jika saja tak menyayangi makhluk di hadapanku itu, mungkin ia akan ku tendang hingga keluar pagar. Sungguhan, cinta tak hanya membuat pemiliknya gila, tapi juga keras kepala.   Tidak, tidak. Aku tidak hanya menyebutnya saja. Tapi aku juga sama keras kepalanya 11 bulan lalu. Bahkan sungguhan hancur berantakan asal kau tau.  “Engkau bahkan tak rusak apapun. Tak hancur di bagian manapun. Meski hatimu berdarah-darah, percayalah, semua orang yang menyayangimu aka...

Hehehe

Gambar
Hai, aku sedang kehabisan energi nih. Herannya adalah; untuk aku yang biasanya suka sekali mendengar kisah-kisah, suka sekali memeluk seseorang, suka sekali memperhatikan lingkungan sekitar demi menguatkan lagi rasa syukur kala keluh memuncak, pun suka sekali duduk sendirian di tengah ramai yang damai demi memulihkan energi, semua itu tak lagi dapat ku lakukan. Justru itu adalah daftar hal-hal yang membuatku semakin kelelahan. Apakah kamu juga pernah begitu emosional setelah mendengar kisah orang-orang, hingga merasa lebih tersiksa daripada yang mengalaminya sendiri? Aku seperti merasa tingkat kepekaanku yang dulu hampir tak pernah muncul, kini justru semakin menguat. Sepertinya aku sedang tidak sanggup mendengar kisah sedih ataupun kecewa untuk saat ini. Padahal impian sederhanaku adalah membantu seseorang agar berhasil sembuh dari trauma. Tapi jika aku sendiri yang sedang terhantui trauma, bagaimana ia akan terwujud? Ah iya, minggu ini adalah minggu ke-2 aku di semester 4...

Day 1

Gambar
Hai! Bagaimana ramadhan hari ini menyapamu? Hari pertama, yang penuh dengan harapan agar dapat kita lakukan dengan sempurna, bukan? Kalaulah ku minta engkau memilih satu kata saja untuk menjawab pertanyaan; “Ramadhan kali ini apa yang paling ingin kau raih?”, maka apa yang akan kau pilih? Sebab jika itu aku, maka aku akan memilih sembuh. Sembuh dari pikiran berlebih akan masa depan yang belum tentu akan tiba, sembuh dari ketakutan tak berujung yang kapan saja dapat membunuh.  Dan sembuh dari trauma yang selalu menjadi penyebab derita. Meski begitu, hari pertamaku justru diawali dengan ketakutan luar biasa. Seolah semua orang jahat, padahal hatiku yang tengah luka. Mendadak, ketakutanku bertemu banyak manusia dalam satu waktu, kembali menyerangku. Dan akhirnya, hari pertama ini ku habiskan hanya di dalam rumah.   Kalaulah ada yang merasa kalimat-kalimatnya belum ku jawab, atau ada kisah-kisahnya yang belum ku tanggapi, pun ada vn yang belum ku dengarkan, aku minta m...

Bulan Kesepuluh

Gambar
"Tidakkah engkau merindukanku juga, Tuan?“  Itu adalah pertanyaanku berbulan-bulan lalu, sebelum akhirnya diperkenalkan Tuhanku oleh satu hal lain, yang jauh lebih indah daripada senyumanmu. Mungkin kemarin aku masih marah-marah, menuntut sebuah kata pamit, dan membencimu sedemikian rupa. Tapi semesta telah mengajariku banyak hal, salah satunya tentang rasa yang tak pernah bisa dipaksa, sebagaimana pun kita menginginkannya.  Dari sana pula, aku akhirnya bisa mengklaim kalimat "Bukan engkau lagi yang ku inginkan sekarang, Tuan" dengan ringan tanpa khawatir jika engkau benar-benar tak pernah kembali lagi. Jika masih bersamamu, apakah aku akan menemukan sebanyak yang ku dapat kini? Tentang keluhanku atas waktu yang sulit sekali diatur kini justru teratur sendiri, tentang kegundahan hati yang kadang tak menentu dan kini terasa lebih damai, tentang menikmati masa kini tanpa pikiran berlebih akan masa depan yang belum tentu kita akan berada di sana, tentang tidur m...

Sebuah Kisah Klasik; Episode Akhir Setelah Jatuh

Gambar
Catatan perjalanan, Kamis 10 Juni 2021 Seharusnya, ia ku kisahkan pada Abi. Dengan segenap energi yang meluap-luap tak tertahan lagi. Tapi sepertinya Abi terlalu sibuk untuk sekedar mendengar kisah receh ini. Hampir saja aku meledak, jika hari ini tak berhasil melangkah pergi. Ku cari tempat paling ramai tapi menenangkan itu sejak pagi. Entah bersebab hati yang sepi, atau aku yang datang terlalu pagi, taman itu hanya menyisakanku seorang diri. Dengan senyum paling lebar yang  dimiliki, aku kembali menetralkan diri. Membuka zoom, dan berusaha fokus pada materi yang sebenarnya hanya bisa ku pahami setelah ku tulis lengkap. Kemudian memberi senyum ramah pada ibu dengan anak bayi yang digendongnya kala menawarkan bubur kacang hijau. "5000 aja kak" katanya. Aku tersenyum, tidak menggeleng, tidak mengangguk. Tapi bubur itu tiba di tanganku. Entah bagaimana prosesnya tadi. Setelahnya, kembali menatap layar hp yang menampilkan materi. Dengan penjelasan dari vidio. Untung ...

Menjadi Manusia Tak Berhati

Gambar
Pada suatu kesempatan wawancara, aku pernah ditanya seperti ini; “Apa kekurangan yang paling kamu sadari?” Aku menjawab singkat, “Terlalu baik” Tapi ia meresponnya dengan tawa, dikiranya hendak merendah agar menjadi tinggi. Aku menatapnya sejurus, meski termaksuk salah satu wawancara yang gagal –karena tak mempelajari platform itu sama sekali-, setidaknya aku berhasil menyampaikan kegundahanku saat itu. “Ketika menjadi manusia baik, engkau akan bahagia. Hidupmu akan tenang. Urusanmu akan lancar. Tapi bagaimana jika kebaikan itu terlalu?” Aku menghirup napas sejenak, “Memang, Rasulullah bilang; Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Tapi, apakah ada pada kalimatnya yang mengandung kebolehan kepada kita untuk disia-siakan begitu saja dengan kebaikan itu sendiri?” Aku bukan sedang mengaku menjadi manusia paling baik di muka bumi. Aku hanya tengah gundah, saat diriku sendiri kesulitan menolak hal-hal yang tak ku inginkan. Tengah terluka, kala terus...

Kamu Mungkin Tak Mengenalku

Gambar
Kamu mungkin tak mengenalku Kala dunia sedang berpihak padamu Kamu mungkin tak menginginkanku, Kala manusia sedang memakai topeng cinta untukmu Pun kamu mungkin tak memedulikanku, Kala semua hal seolah bisa kau urus semuanya sendirian. Aku tak lagi peduli apapun itu, Toh manusia sama saja Kenapa kita harus hidup berdampingan dalam kepalsuan? Kamu mungkin tak mengenalku Jika saja bukan sedang hancur berkeping Dan Tuhanku mengenalkanmu padaku, melalui sajak-sajak patah yang tak pernah kita kira hadirnya. Lalu, ada apa dengan luka? Aku sering kali mendengar kalimat-kalimat bernada larangan tentang berharap pada manusia, tapi hampir tak pernah menemui kalimat yang mengingatkan untuk tidak memberi harapan. "Kadang niat kita hanya berbuat baik, tapi ia berlebihan dalam berharap" ucap seseorang. "Dia saja yang terlalu baperan. Toh aku tak pernah berniat apa-apa" ucap yang lain. Padahal seharusnya, jika tak ingin melukai, tak usah bertemu manusia. Pun sama, tak ...

Kala level Ruh-mu sudah semakin tinggi, apakah diriku semakin samar di matamu?

Gambar
Bertahun-tahun waktuku dihabiskan untuk merangkai kalimat tentangmu. Merayu detik demi detik, agar bersedia bersabar lebih lama lagi. Meski hingga detik ini pun, aku belum bisa memastikan kapan semua ini akan berakhir. Hari ini setelah sekian tahun terlewati, untuk pertama dalam sejarah mengenalmu, aku, jiwaku, bahkan ragaku, mengakui satu kata yang amat ku benci itu, ada padaku.  INSECURE.  Level Ruh-mu sudah semakin tinggi, sementara aku masih stag di sini.  Kalau pun ku katakan, rasa ini bahkan sudah ada sebelum engkau menjadi apa-apa, sebelum engkau dikenal banyak mata, sebelum engkau bertransformasi menjadi menakjubkan dan luar biasa, tetap takkan ada artinya kan?  Sejak awal engkau bahkan sudah memilih. Dan aku sadar, engkau baik sebab takdirmu menjadi seorang hamba Allah yang baik pada semua makhluk. Meski isyarat mata maupun sungging milikmu yang selama ini memberiku salah makna, lebih-lebih salah rasa.  Aku paham, langkah terbaik bagiku adal...