Postingan

Sebuah Keluh, Yang (tak) Seharusnya Disampaikan

Gambar
Di pertengahan semester 3 idad, atau, di lebih dari 2 tahun belajar dalam kepalsuan. Juga, di sisa lelah yang (seperti) tak pernah usai. Mereka menyebutnya burn out. Sementara aku menyebutnya; keinginan untuk bisa hidup tenang tanpa beban. Tapi seorang baik hati itu mengingatkanku, bahwa ketenangan hidup tanpa beban itu hanya bisa didapat setelah diizinkan Tuhan menginjak surgaNya. Di masa-masa; masih belum berhasil menyebut kata "tidak" dengan lancar, dan air mata yang mengering dan menghambar. Sebagai manusia paling biasa di bumi yang sering tidak tahu diri, Aku meminta sebuah pengertian. Ada beberapa hal yang memang tak bisa diceritakan, meski aku berulang menyebut kata percaya, padamu.  Ada beberapa hal remeh, yang seharusnya bisa kita perbincangkan, justru membuat diri ini menjadi pasif dan hanya mendengarkan. Ada beberapa waktu, yang tak bisa ku berikan, meski benda 'laknat' berbentuk kotak ini, hampir tak pernah terlepas dari tangan. Pun ada beberap...

Luka Manakah Yang Harus Ku Dekap?

-Jika Cinta Manusia Membuatmu Luka, Maka Cinta Rabb Takkan Pernah Ada Habisnya- Ada banyak sekali kisah yang ingin ku sampaikan. Tapi entah sejak kapan, kalimat itu menghangus dengan sebenar-benar hangus. Seolah tak ingin menyisakan apapun kecuali sekelumit luka dan rindu yang terus menjadi-jadi.   Apalah arti sebuah keinginan menggebu, yang sudah diberi kepastian bahwa ada banyak ketidakmungkinan padanya. Seperti halnya dengan; apalah arti hidup tanpa ada harapan apapun yang menyertainya. Maka berkali-kali telah dikatakan: berdoalah, berdoalah, berdoalah. Ada Rabb yang dengan kuasaNya, mampu membuat apa-apa yang mustahil menjadi mungkin. Ada Rabb yang dengan keagunganNya, mampu membolak-balik hati. Ada Rabb yang dengan asmaa’-Nya, akan mendekap utuh semua luka dan menggantinya dengan bahagia tak terkira. Jika semakin bertambah usia membuat semakin kalut dan patah, menghancurkan setiap impian dan harapan, memporak-porandakan hati dan pikiran. Tak apa. Dunia memang tempatnya ...

Seolah Bisa Sendiri

Gambar
Pukul 1 dini hari, dengan kedip yang kian berat dan kelopak yang tak boleh terpejam. Sudah terlalu larut sementara belum ada satupun yang terselesaikan. Tadi, selepas melirihkan “mantra” berjuanglah sendiri, tak ada satupun yang peduli, diri berhasil mengumpulkan semangat ber-api meski kembali berhenti sebelum persimpangan. Sudah terlalu lelah dengan semua hal yang hanya dipikirkan dan dibiarkan menumpuk tanpa memaksa diri menyelesaikannya. Mengumpulkan lagi asa, untuk menggenggam pena yang justru berakhir cerita. Ada begitu banyak hal berkecamuk tapi tak bisa dikisahkan satu-satu. Terlalu kusut dan berbelit, sementara aku tak punya waktu untuk mengurainya. Kemarin setelah mencermati jejak tulisan seseorang yang bagiku tampak begitu misterius itu, insecure yang sudah lama tak berkunjung, tiba-tiba datang. Memaksaku berhenti membaca tulisan-tulisan miliknya yang baru setengah jalan. Mau bagaimanapun aku berjuang membantunya bangkit dari keterpurukan, aku harus terlebih...

Life Goes On

Gambar
Dan sungguh, kematian adalah sebaik-baik pengingat. Kita yang ditinggalkan bisa saja sedih berlarut-larut meratapi kepergian, tapi yang juga mesti diingat adalah diri sendiri. Sebab mereka yang telah menemui Tuhannya, sudah selesailah urusannya pada dunia, berhenti pula kesempatannya menambah dosa, (Semoga Allah melindungi kita dari dosa Jariyah, Aamiin ya Rabb). Sementara kita yang masih dibiarkanNya berjalan di muka bumi, seolah lupa dan mengira bahwa kita akan hidup selamanya. Meski kehidupan akan terus berjalan tanpa peduli siapa yang datang siapa yang pergi. Meski bumi terus berputar pada peredarannya. Meski diri berteriak meminta waktu agar berhenti atau berputar cepat. Dia akan tetap sama. Waktu itu relatif bukan? 24 jam dalam hitungan, tapi setiap jiwa memiliki hitungannya sendiri. Kala terluka, satu detik saja seolah berabad lamanya. Ketika tengah bersama orang yang dicinta, 1 jam terasa seperti sekejap saja. Kita hanyalah makhluk tak berdaya yang diberi kesem...

Pada Rindu Yang (tak) Ingin Diajak Bicara

Gambar
“Aku bertahan dengan memainkan angan” Aku masih menyimpan gambarmu Dan setiap kali aku merindukanmu Aku mengeluarkan fotomu Dan ku lakukan perjalanan menyusuri jalan kenangan Tidak butuh waktu lama Agar hatiku bernostalgia -Kahlil Gibran, Aku Menangis. “Bagaimana harimu? Masih adakah waktu untuk tawamu, agar dapat terlepas tanpa beban? Lalu bagaimana dengan bahagia? Masihkah ia setia membersamaimu?” Pada rindu, yang justru kian gebu. Pada ingin, yang bahkan kian memaksa temu. Semoga sungguh pada sabar, tak membuatmu lelah menunggu. Seseorang bertanya padaku, “Bagaimana mengelola rindu?” Aku, yang belum pernah berhasil menaklukkan itu hanya menjawabnya dengan senyum simpul, kemudian melirihkan kalimat yang entah dari mana timbul; “Nikmati saja. Rindu adalah hal terindah kala mencintai sesuatu. Merindukan Rabb yang sungguh selalu ada di sisimu, merindukan Rasulullah yang begitu mencintaimu, merindukan Ayah dan Ibu yang sungguh merupakan titisan malaikat penjaga bagimu, pun me...

Kembali

Gambar
Pada detik yang entah, aku mencoba merangkai kalimat-kalimat itu lagi. Kalimat yang sebelumnya berhasil dilupakan penuh, bahkan tak pernah tiba untuk disampaikan pada siapa pun. Kalimat, yang ku kira takkan pernah ada pembaharuan. Dan Juli yang penuh luka itu, benar-benar memberi kejutan. Malam itu, dua puluh tiga lewat tiga belas. Ketika rasa bersalah sebab lagi-lagi mengundurkan diri dari memberi dekap, akhirnya berhasil memudar. Ketika semua huruf-huruf itu berhasil ku eja dengan benar dengan mempersembahkan nilai terbaik dari semua nilai yang ada. Ketika kamar berhasil terombak sempurna. Dan ketika mood benar-benar membuncah, hingga membuat diri mendadak jatuh cinta pada semua takdirNya. Pada lembar-lembar yang hampir tak pernah ku baca ulang, kecuali sekedar mencari inspirasi untuk memberi asupan pada kerangka puisi. Malam itu, dua puluh tiga lewat tiga belas. Selepas membaca semua bagian dari lembar-lembar itu, dari awal hingga titik paling akhir. Seraya mengg...

Antara Hafalan, Sepi, dan Target Mimpi

Gambar
Dibuat dengan tujuan sebagai pengingat diri dan pelega pikiran. Sebab jika ku ceritakan pada dia yang tak sepemikiran akan mengundang anggapan tak sesuai di hati. Jika tak sengaja terbaca olehmu, silahkan klik tombol kembali, atau silahkan membaca sampai habis. Agar kita sama-sama tak salah persepsi.   Minggu pagi, dengan embun sejuk sisa hujan malam tadi. “Jadi bagaimana cara anti mempertahankan hafalan?” tanya ustadzah setelah aku berhasil menyelesaikan ikhtibar mingguan, seperti biasa. Nama beliau, Ustadzah Husnul Khotimah. Jarak umur ku dengannya hanya berkisar 5 tahun. Tapi sungguh, sejak awal aku sudah jatuh cinta pada akhlaknya. Ditambah sisi paling membahagiakan itu adalah, ketika beliau meluangkan banyak waktunya untuk sekedar berbincang dan mengingatkanku pada banyak hal.   “Ana....banyak futur-nya Ustadzah... ditambah kondisi lingkungan yang tidak sama. Seolah terasing dan berbeda sendiri. Belum lagi, ana yang terkadang dipandang aneh sebab masih...

Abadi dalam kenang

Gambar
Tak ada yang benar-benar abadi bukan? Bahkan alam semesta ini. Sungguh, hanya Rabb saja yang tak akan pernah pergi. Sudah berapa kali perasaan sesak sebab kehilangan sesuatu menghampirimu? Bukankah setiap hari, bahkan setiap detik ada banyak hal yang pergi dan meninggalkanmu? Kehilangan sisa umur yang harusnya dapat dimanfaatkan baik-baik misalnya. Kehilangan jatah tiupan napas, atau bahkan kehilangan orang yang amat berharga dalam hidup.  Sebab waktu terus berjalan. Melahap semua kesempatan yang terus disia-siakan. Hingga menyisakan sesal yang teramat dalam.  Bagimu, apa yang paling menyakitkan? Setelah sekian jauh kaki ini menempuh perjalanan, akhirnya aku sadar. Bahwa kehilangan seseorang yang tak akan pernah bisa ditemui lagi selama-lamanya adalah jawabannya. Kala diri kemudian sadar bahwa ia tak akan pernah kembali lagi, meski hanya sekedar kedipan mata, ataupun sepatah kata. Apalagi tawa renyah khas miliknya. Bahkan setelah ribuan menit berlalu, rasa kehilang...