Sebuah Keluh, Yang (tak) Seharusnya Disampaikan

Di pertengahan semester 3 idad, atau, di lebih dari 2 tahun belajar dalam kepalsuan.
Juga, di sisa lelah yang (seperti) tak pernah usai.
Mereka menyebutnya burn out.
Sementara aku menyebutnya; keinginan untuk bisa hidup tenang tanpa beban.
Tapi seorang baik hati itu mengingatkanku, bahwa ketenangan hidup tanpa beban itu hanya bisa didapat setelah diizinkan Tuhan menginjak surgaNya.

Di masa-masa; masih belum berhasil menyebut kata "tidak" dengan lancar, dan air mata yang mengering dan menghambar.
Sebagai manusia paling biasa di bumi yang sering tidak tahu diri,
Aku meminta sebuah pengertian.


Ada beberapa hal yang memang tak bisa diceritakan, meski aku berulang menyebut kata percaya, padamu. 

Ada beberapa hal remeh, yang seharusnya bisa kita perbincangkan, justru membuat diri ini menjadi pasif dan hanya mendengarkan.

Ada beberapa waktu, yang tak bisa ku berikan, meski benda 'laknat' berbentuk kotak ini, hampir tak pernah terlepas dari tangan.

Pun ada beberapa respon, yang tak lagi sama, bahkan menghambar bersebab waktu interaksi yang berjalan begitu lambat. 

Tapi rasa yang ada masih sama, percayalah. 
Bukan bersebab sosok yang lebih penting darimu -sebab memang tak pernah ada-. Tapi bersebab kesibukan sekaligus ketakutan yang sesungguhnya hanya memenuhi kepala. 

Kita sama-sama hanyalah seonggok tubuh tak berdaya yang tengah berjuang, agar dapat terus hidup dengan penuh syukur, bukan?

Selamat menikmati sepi yang dihiasi tanggungjawab yang muncul sepanjang masa.
Seperti halnya pertanyaan seseorang, kemarin, "Mbak, ternyata tumbuh dewasa serumit ini ya?“

Aku, yang juga baru saja beranjak menuju kata itu, pun sama. Terkejut, bersebab khayalan masa kecil tentang keindahan bertumbuh dewasa, tak sama adanya.

Mari berhenti menabuh.
Dan mulailah menikmati alunan nada yang selama ini kita anggap berisik.
Mari dengarkan acuh, sumpah serapah, bahkan wejangan yang memekakkan kepala, tanpa mengingat apapun setelahnya.

Mari tetap hidup, dengan penuh syukur.
Sebab sejatinya, yang membuat hari begitu berat bersebab tuntutan yang diri minta sendiri.
Padahal Tuhanmu, menyayangi seutuh itu.
Kita hanya perlu sedikit peka.
Mungkin, dengan mengasingkan diri dari riuh dan peluh.


Dan, dengan kalimat tak beraturan serta kacau tadi, aku menutup kalimatku hari ini.
Maaf, diri bukan sibuk.
Hanya sedang kerepotan sedikit untuk berbasa-basi.


Curup, 22 Maret 2022 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finally, The Moon’s Day!

Kota Yang Tak Pernah Istirah

(Lagi-lagi) Tentang Kebaikan Tuhan