Postingan

Kembali

Gambar
Pada detik yang entah, aku mencoba merangkai kalimat-kalimat itu lagi. Kalimat yang sebelumnya berhasil dilupakan penuh, bahkan tak pernah tiba untuk disampaikan pada siapa pun. Kalimat, yang ku kira takkan pernah ada pembaharuan. Dan Juli yang penuh luka itu, benar-benar memberi kejutan. Malam itu, dua puluh tiga lewat tiga belas. Ketika rasa bersalah sebab lagi-lagi mengundurkan diri dari memberi dekap, akhirnya berhasil memudar. Ketika semua huruf-huruf itu berhasil ku eja dengan benar dengan mempersembahkan nilai terbaik dari semua nilai yang ada. Ketika kamar berhasil terombak sempurna. Dan ketika mood benar-benar membuncah, hingga membuat diri mendadak jatuh cinta pada semua takdirNya. Pada lembar-lembar yang hampir tak pernah ku baca ulang, kecuali sekedar mencari inspirasi untuk memberi asupan pada kerangka puisi. Malam itu, dua puluh tiga lewat tiga belas. Selepas membaca semua bagian dari lembar-lembar itu, dari awal hingga titik paling akhir. Seraya mengg...

Antara Hafalan, Sepi, dan Target Mimpi

Gambar
Dibuat dengan tujuan sebagai pengingat diri dan pelega pikiran. Sebab jika ku ceritakan pada dia yang tak sepemikiran akan mengundang anggapan tak sesuai di hati. Jika tak sengaja terbaca olehmu, silahkan klik tombol kembali, atau silahkan membaca sampai habis. Agar kita sama-sama tak salah persepsi.   Minggu pagi, dengan embun sejuk sisa hujan malam tadi. “Jadi bagaimana cara anti mempertahankan hafalan?” tanya ustadzah setelah aku berhasil menyelesaikan ikhtibar mingguan, seperti biasa. Nama beliau, Ustadzah Husnul Khotimah. Jarak umur ku dengannya hanya berkisar 5 tahun. Tapi sungguh, sejak awal aku sudah jatuh cinta pada akhlaknya. Ditambah sisi paling membahagiakan itu adalah, ketika beliau meluangkan banyak waktunya untuk sekedar berbincang dan mengingatkanku pada banyak hal.   “Ana....banyak futur-nya Ustadzah... ditambah kondisi lingkungan yang tidak sama. Seolah terasing dan berbeda sendiri. Belum lagi, ana yang terkadang dipandang aneh sebab masih...

Abadi dalam kenang

Gambar
Tak ada yang benar-benar abadi bukan? Bahkan alam semesta ini. Sungguh, hanya Rabb saja yang tak akan pernah pergi. Sudah berapa kali perasaan sesak sebab kehilangan sesuatu menghampirimu? Bukankah setiap hari, bahkan setiap detik ada banyak hal yang pergi dan meninggalkanmu? Kehilangan sisa umur yang harusnya dapat dimanfaatkan baik-baik misalnya. Kehilangan jatah tiupan napas, atau bahkan kehilangan orang yang amat berharga dalam hidup.  Sebab waktu terus berjalan. Melahap semua kesempatan yang terus disia-siakan. Hingga menyisakan sesal yang teramat dalam.  Bagimu, apa yang paling menyakitkan? Setelah sekian jauh kaki ini menempuh perjalanan, akhirnya aku sadar. Bahwa kehilangan seseorang yang tak akan pernah bisa ditemui lagi selama-lamanya adalah jawabannya. Kala diri kemudian sadar bahwa ia tak akan pernah kembali lagi, meski hanya sekedar kedipan mata, ataupun sepatah kata. Apalagi tawa renyah khas miliknya. Bahkan setelah ribuan menit berlalu, rasa kehilang...

Sirat

Bacalah,. Meski aku tak pernah tau kapan kalimat ini akan tiba di matamu. Satu yakinku, berapapun hitungan tahun yang masih tersisa, engkau pasti akan membacanya. Dengan ataupun tanpa hasil dari harapan yang pernah diam-diam terpupuk sempurna.