Sebuah Keluh, Yang (tak) Seharusnya Disampaikan
Di pertengahan semester 3 idad, atau, di lebih dari 2 tahun belajar dalam kepalsuan. Juga, di sisa lelah yang (seperti) tak pernah usai. Mereka menyebutnya burn out. Sementara aku menyebutnya; keinginan untuk bisa hidup tenang tanpa beban. Tapi seorang baik hati itu mengingatkanku, bahwa ketenangan hidup tanpa beban itu hanya bisa didapat setelah diizinkan Tuhan menginjak surgaNya. Di masa-masa; masih belum berhasil menyebut kata "tidak" dengan lancar, dan air mata yang mengering dan menghambar. Sebagai manusia paling biasa di bumi yang sering tidak tahu diri, Aku meminta sebuah pengertian. Ada beberapa hal yang memang tak bisa diceritakan, meski aku berulang menyebut kata percaya, padamu. Ada beberapa hal remeh, yang seharusnya bisa kita perbincangkan, justru membuat diri ini menjadi pasif dan hanya mendengarkan. Ada beberapa waktu, yang tak bisa ku berikan, meski benda 'laknat' berbentuk kotak ini, hampir tak pernah terlepas dari tangan. Pun ada beberap...